Pati, Kota – Tim Kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), akan melihat hasil sosialisasi penerapan nilai-nilai Pancasila, di Kabupaten Pati, Kamis (12/10). Diantaranya akan berkunjung dan berdialog langsung dengan masyarakat di dua desa Pancasila.
Dua kampung Pancasila di Kabupaten Pati yang menjadi sasaran kunjungan tim kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), dalam pencapaian sosialiasi penerapan nilai-nilai Pancasila hingga ke pelosok, yakni di Desa Jrahi dan di Desa Karangsari Kecamatan Cluwak.

Ketua Tim Kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Julie Trisnadewani MI Kom mengatakan, kunjungannya ke kampung Pancasila yang ada di Pati, untuk menggali tingkat capaian sosialisasi Pancasila dengan pemanfaatan media sosial maupun media masa yang ada di daerah.
“Di Pati tim kajian memasuki tahun ketiga. Di tahun ketiga ini, kita ingin menggali bagaimana sosialisasi melalui media apa saja. Entah melalui media sosial, atau media pemutaran film, maupun melalui media yang ada sekarang, atau melalui media-media apalagi yang efektif di daeah untuk mensosialisasikan Pancasila,” katanya.
Bupati Haryanto didampingi Forkompinda Kabupaten Pati, dalam sambutan selamat datang mengatakan, meski  wilayah Pati luas dengan 406 desa/kelurahan serta berpenduduk 1,3juta jiwa, namun kehidupan umat beragama berjalan kondusif. Bahkan, sinergitas yang dibangun bersama TNI/Polri dan Pemerintah Kabupaten, di Pati telah muncul  desa Pancasila, guyup rukun saling menghargai.
“Terbukti peringatan HUT RI, belum ada perintah dari sekretariat negara bendera 1 blm penuh dalam kurun 1-30 Agustus 1000 bendera. Di daerah kuncinya aman dan damai. Seringkali masyarakat menerima apa adanya. Jiwa besar yang di masyarakat Pati. Ada juga yang menyampaikan aspirasi di depan istana sampai ngecor kaki, kalau itu dalam kepentingan pribadi, seolah-olah kontra yang dilakukan bisa direspon,” katanya.
Saat penyambutan selamat datang di ruang rapat Pragola Setda Pati, Tim Kajian Wantimpres, banyak mendapat masukan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan pelaku sejarah yang masuk daftar orang untuk diculik saat peristiwa kelam 1965. Termasuk tayangan sinetron televisi suasta yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.(•)