Cetak
Dilihat: 280

Pati, Kota – Ratusan petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah berunjuk rasa ke Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Pati, Senin pagi (22/1). Mereka memprotes kebijakan Pemerintah melalui Menteri Perdagangan RI, yang telah mengimpor beras ratusan ribu ton.
Kebijakan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand dinilai mencekik dan melukai petani. Ratusan petani di Pati, Jawa Tengah yang terusik dengan kebijakan itu berunjuk rasa.

Koordinator aksi Petani Berdikari Pati Kidul Suhadi mengatakan, seluruh petani merasa dikhianati dengan kebijakan impor 500ribu ton beras, yang berdampak harga gabah panen dan beras di pasaran turun.
“Solusinya gampang, kalau Menteri Perdagangan dan Presiden Jokowi mau melihat ke daerah-daerah, bahwa Januari, Pebruari dan pertengahan Maret panen raya yang tidak Cuma di Jawa tapi juga sebagaian diluar Jawa. Semestinya kalau mau impor harus ditahan, jangan dimasukkan dulu. Paling tidak pada bulan-bulan, Agustus, atau bulan apa?. Jadi itu yang dibutuhkan, jangan mencekik petani yang mau menikmati hasil pertanian saat ini,” tuturnya.
Saat berunjuk rasa Petani Berdikari Pati Kidul juga akan menyampaikan tuntutannya kepada Bupati dan Ketua DPRD Pati, untuk mendesak Presiden Jokowi mengganti Menteri Perdagangan, bila tetap memaksakan kebijakannya mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand sebanyak 500ribu ton.
Koordinator aksi Petani Berdikari Pati Kidul Suhadi menambahkan, sejak mencuat kebijakan impor beras oleh Menteri Perdagangan, harga gabah panen terus turun. Dari Rp. 28juta/hektar kini turun hingga Rp.20juta/hektar. Kebijakan impor beras untuk menurunkan harga beras, merupakan kebijakan yang tidak pro petani dan tidak adil. Karena ketika tanam harga pupuk melambung, dan langka. Sementara Bulog enggan menyerap beras petani pada musim panen pertama, dengan alas an kadar airnya masih tinggi.(•)

0
0
0
s2smodern
powered by social2s